Dalam satu sesi perencanaan keuangan dengan klien saya, ia bertanya apakah membeli rumah akan membuatnya bahagia. Saya sempat bengong sebentar ketika klien saya bertanya tentang hal tersebut. Diatas kertas, klien saya ini mampu dan sesuai profile resiko dan tujuan investasinya memang disarankan untuk membeli property yang dapat dijadikan tempat berteduh, karena klien saya ini sudah dalam posisi mapan dengan penghasilan dan pekerjaannya.

Tapi, benar juga, apakah membeli rumah akan membuatnya bahagia? Tentu saja belum tentu ya.

Jim Taylor, PhD, seorang psikolog berpendapat bahwa “happiness doesn’t come from our stuff, but the values that underlie our stuff and how it impacts the quality of our lives”.  Jadi menurut Jim Taylor, ada dua hal yang dapat membuat membeli rumah itu memberikan kebahagiaan bagi pemiliknya:

  1. Apabila tempat tinggalnya sekarang sudah sesuai dengan nilai-nilai dan preferensi si pemilik? Misalnya, si pemilik menginginkan tempat yang asri dan nyaman tetapi saat ini tinggal di tengah kota yang crowded dan bising.
  2. Apakah rumah yang akan dibeli sesuai dengan nilai-nilai si klien saya itu dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Intinya, dengan budget yang sama, klien saya memiliki beberapa pilihan. Misalnya, antara Jakarta Selatan dan BSD City. Tinggal di tengah kota Jakarta Selatan dengan luas yang jauh lebih kecil atau mendapatkan satu rumah dengan luas tanah jauh lebih besar di Lyndon Nava Park. Antara keramaian kota Jakarta Selatan dan tanpa fasilitas tambahan atau di Lyndon Park dengan fasilitas lengkap dari mulai Country Club mewah hingga Botanical Park seluas 10 Hektar.

Diakui Jim Taylor, bahwa benda yang kita miliki, termasuk rumah mewah sekalipun, tidak menjadi jamunan kebahagiaan. Tetapi, semakin apa yang kita miliki itu sejalan dengan nilai kita, maka semakin dekatlah kebahagiaan.

Klien saya mengakui bahwa ia ingin tempat tinggal yang bisa sedikit banyak menunjukan pencapaiannya selama ini, nyaman dan tentu saja lengkap. Rasanya memang sulit menandingi kelengkapan dan kenyamanan tinggal di dalam cluster, terutama cluster-cluster di BSD City. Selain clusternya sendiri nyaman dan lengkap, BSD City sendiri sudah tumbuh menjadi satellite city yang lengkap dan segala ada. Bahkan yang dari Jakarta pun sering mampir ke BSD City untuk hang-out, dan jalan-jalan di pusat perbelanjaan di BSD City seperti AEON Mall.

Belum lagi fasilitas beriorientasi kebugaran, fitness dan keluarga yan dibutuhkan klien saya yang memang sudah mulai settle ini. Saya merekomendasikan agar si klien benar-benar mencari tempat yang ia sukai karena saya tidak bisa menentukan apa yang sebenarnya ia cari. Pada akhirnya klien saya pun kembali dengan keputusan bulat dan (happy) dengan membelli Lyndon Park.  “I look forward to a happier and healthier life at Lyndon!” begitu harapannya. Semoga.

About Author

administrator

Property Observer adalah portal yang memberi informasi secara up to date dan informatif, baik dalam segi lifestyle , bisnis, dan segala jenis aspek kebutuhan. Namun dari semua itu ada satu aspek yang sangat di butuhkan oleh manusia yaitu property.

Previous Post

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *